Guru adalah Pendidik.
Menyandang profesi guru adalah sangat mulia, seperti pada ungkapan berikut " A teacher takes a hand, opens a mind, and touches a heart", akhirnya menjadi sesuatu yang menarik perhatian bagi banyak orang di Indonesia. Banyak anak muda yang berminat menjadi guru setelah adanya program sertifikasi guru.
Menyandang profesi guru adalah sangat mulia, seperti pada ungkapan berikut " A teacher takes a hand, opens a mind, and touches a heart", akhirnya menjadi sesuatu yang menarik perhatian bagi banyak orang di Indonesia. Banyak anak muda yang berminat menjadi guru setelah adanya program sertifikasi guru.
Hal ini ditandai dengan banyaknya
lulusan sekolah menengah tingkat atas SMTA yang memilih perguruan tinggi
keguruan. Mahasiswa lulusan jurusan non kependidikan pun banyak yang berminat
menjadi guru dengan mengambil Akta mengajar IV agar dapat sertifikat mengajar.
Program sertifikasi bagi guru memungkinkan
para guru untuk memperoleh penghasilan bagus setelah memenuhi persyaratan
tertentu. Dengan kesejahteraan yang memadai para guru akan dapat meningkatkan
profesionalismenya. Jika hanya karena penghasilan guru
lebih bagus, keinginan untuk menyandang profesi guru akan mendatangkan kekecewaan di kemudian hari. Banyak tantangan dan hambatan
yang akan dihadapi jika guru sudah memperoleh sertifikat guru profesional.
Profesi guru akan menarik jika diikuti
panggilan hati dan nurani untuk mencerdaskan anak bangsa. Guru akan bangga dan
puas jika anak didiknya berhasil. Guru juga menjadi lebih bangga bisa melihat siswanya
semakin pintar dan maju. Profesi guru itu akan berhadapan dengan
berbagai permasalahan di lapangan. Guru tidak menghadapi benda mati yang mudah
diutak-atik sesuka hati. Guru berhadapan dengan manusia dinamis yang sedang
menuju proses pendewasaan. Sebagai manusia yang sedang menuju taraf dewasa,
siswa memiliki berbagai sifat dan karakter unik. Kadang-kadang tidak
mengenakkan hati. Profesi guru akan lebih menarik jika
dihadapi dengan dasar hati nurani. Ada keasyikan tersendiri bagi guru dalam
menjalankan tugas sebagai pendidik. Menghadapi manusia dinamis perlu dengan
sikap dan tindakan fleksibel jika guru tidak ingin makan hati setiap hari oleh
kelakuan siswa.
Zaman sekarang, pengaruh lingkungan
sangat besar terhadap perkembangan pikiran dan perasaan peserta didik. Mereka
lebih mudah meniru apa yang mereka lihat dan tonton. Media informasi menyajikan
hiburan dan ilmu pengetahuan yang komplit. Mereka bisa belajar dari sana. Sebenarnya tugas guru menjadi lebih
mudah dengan kondisi seperti itu. Peranan guru tidak lagi menyajikan informasi.
Melainkan guru berperan sebagai mediator antara siswa dengan sumber belajar
yang ada.
Menjadi guru yang kreatif adalah impian
semua pendidik. Namun tidak mudah untuk mewujudkan impian itu. Banyak faktor
yang mempengaruhi kreativitas seorang guru. Artinya, kreativitas itu tidak
datang dengan sendiri melainkan muncul berkat adanya dukungan dari lingkungan
eksternal pribadi seseorang.
Kreativitas
itu bawaan atau bakat seseorang. Tidak semua orang yang memiliki potensi bakat
untuk kreatif. Begitu pula guru, tidak
semuanya yang memiliki kreativitas. Banyak guru yang mengandalkan kondisi
lingkungan pembelajaran apa adanya. Sudah merasa cukup dengan apa yang sudah
dijalankan dan dicapai dalam mengajar. Padahal, di tengah kemajuan ini seorang guru harus mampu beradaptasi dan berpikir cepat dalam menghadapi tugas keguruannya.
Kreativitas
seseorang juga ditentukan oleh wawasan pengetahuan serta kebiasaan dan latihan
tertentu. Orang yang berwawasan dan pengetahuan lebih cenderung untuk kreatif
dalam melakukan kegiatan.
Bagaimana
ciri-ciri guru kreatif dalam dunia pendidikan? Ada beberapa ciri yang utama
dari guru yang kreatif:
1.memiliki
kreasi-kreasi terbaru yang bersifat inovasi dalam mengembangkan model
pembelajaran.
2.mampu
merancang dan mendisain perangkat pembelajaran secara mandiri.
3.mampu
menyajikan materi pelajaran dengan metode yang bervariasi.
4.Mampu
menyajikan pembelajaran yang menyenangkan.
5.Selalu
optimis dalam melaksanakan tugas.
6.Menjadi
pemecah masalah dalam hubungan komunikasi social.
7.Selalu
melakukan eksperimen dalam menjalankan tugasnya.
8.Berpikir
positif.
9.Taat
beribadah
10.Menjadi
panutan bagi rekan sesama guru.
Guru kreatif ciri guru profesional. Paling tidak ada dua hal yang berkaitan dengan profesi guru. Pertama, guru itu jabatan profesional. Yaitu pekerjaan yang dilakukan dengan menguasai kompetensi tertentu. Dalam hal ini adalah 4 kompetensi dasar sebagai guru profesional. Kompetensi tersebut diperoleh melalui program pendidikan dan latihan.
Kedua,
memperoleh penghasilan yang memadai dari jabatan yang disandang oleh guru. Dalam
hal ini, guru memperoleh penghasilan tetap sesuai pangkat dan golongan guru
bersangkutan. Bagi guru yang telah memperoleh sertifikat pendidik profesional
akan memperoleh penghasilan yang cukup besar.
Pendidik profesional dipastikan akan kreatif dalam menjalankan tugas profesinya. Seperti
dibahas sebelumnya, dikemukakan 10 ciri kreatif. Kesepuluh ciri tersebut dimiliki oleh guru profesional. Oleh sebab itu, guru
profesional identik dengan guru kreatif. Mengapa demikian?
Guru profesional minimal memiliki 4 kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan kompetensi sosial. Guru kreatif akan berusaha untuk mengembangkan semua kompetensi tersebut secara kreatif dan mandiri.
Guru
kreatif akan mampu mengembangkan strategi dan metode pembelajaran efektif dan
efisien. Pembelajaran akan menarik dan dirasakan manfaatnya oleh peserta didik.
Muaranya akan terwujud pembelajaran berkualitas.
Kemampuan
profesional akan diasah secara kreatif sehingga menjadi seorang guru yang
betul-betul profesional di bidangnya. Menjadi pribadi guru yang patut digugu dan ditiru oleh lingkungan masyarakat sekitarnya.
Yang
tidak kalah menarik dari guru kreatif adalah mampu bersosialisasi dengan
lingkungan sekitarnya. Guru kreatif akan menjadi pemecah masalah yang handal di
tengah masyarakat. Itulah sebabnya, mengapa guru kreatif itu identik dengan
guru profesional.
Beberapa Tips mengajar bagi Sang Guru, antara lain:
Guru
adalah sosok sentris yang tampil di depan kelas. Seorang guru akan menjadi
perhatian oleh sekian pasang mata ketika mengajar. Dapat dibayangkan, sekian
siswa dengan beragam karakter memberikan perhatian dan apresiasi terhadap
penampilan guru di depan kelas.
Berikut
tips penting agar guru tampil penuh percaya diri ketika melaksanakan
pembelajaran.
Saat
guru mengajar, saat itu pula siswa mengamati penampilan guru. Mulai dari ujung
rambut sampai ujung sepatu. Diyakini, tidak semua siswa yang memusatkan
perhatian pada apa yang dibicarakan guru. Bisa jadi sebagian siswa lebih
tertarik untuk memperhatikan tampilan guru ketimbang materi pelajaran yang
sedang dibahas. Oleh sebab itu, terutama guru baru atau calon guru yang sedang
melaksanakan praktik lapangan, perlu tampil optimal ketika mengajar.
- Pakaian dan penampilan
Agar
tampil percaya diri di hadapan siswa, guru perlu berpenampilan rapi dan menarik.
Mulai dari rambut, pakaian, sepatu, sampai pada asesoris yang dikenakan. Semua
ini akan berpengaruh pada motivasi dan perhatian siswa dalam belajar. Kelainan
atau kejanggalan dari tampilan berpakaian ini akan menyebabkan terganggunya
perhatian dan konsentrasi belajar siswa.
- Penguasaan materi ajar
Guru
yang kurang menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan membuat proses
pembelajaran menjadi tersendat-sendat. Guru akan sering membuka buku sumber
sehingga perhatiannya berkurang pada siswa. Kegaduhan suasana belajar sering
berawal dari tersendatnya proses pembelajaran. Oleh sebab itu, agar tampil
penuh percaya diri, guru benar-benar menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan.
Dengan demikian guru akan mudah mengelola kelas.
- Gaya mengajar
Setiap
guru memiliki gaya mengajar tersendiri. Gaya mengajar guru adalah khas sehingga
menjadi pembeda satu guru dengan guru lainnya. Ada guru yang suka mengajar
banyak duduk. Ada pula yang senang berdiri, selalu mengitari ruang kelas. Sepatu
dan bunyi detak langkah guru ketika berjalan mengitari ruang kelas, menjadi hal
spesifik bagi masing-masing siswa.
Agar
tampil percaya diri dalam mengajar perlu adanya variasi gaya mengajar sehingga
menarik perhatian siswa. Tentunya akan menjadi motivasi tersendiri bagi siswa
dalam menerima materi pelajaran yang diajarkan guru.
- Gaya berbahasa dan berbicara
Barangkali
poin ini menjadi sangat penting dan menentukan keberhasilan guru tampil percaya
diri ketika mengajar. Siswa dengan mudah mengetahui karakter guru melalui cara
berbahasa dan berbicara. Cara berbahasa dan berbicara guru yang bervariasi dan
diselingi humor lebih disenangi oleh siswa.
Ketika
berbicara hendaknya guru selalu mengarahkan perhatian pada siswa, jangan sering
melihat ke luar ruangan karena hal ini dianggap kurang menghargai siswa. Guru
harus dapat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak selalu terfokus
pada siswa tertentu.
Empat
poin di atas, akan menjadi ciri khas dan karakter tersendiri bagi guru di mata
siswa. Pengelolaan kelas akan menjadi mudah sehingga guru tampil percaya diri.
Profesi guru
Indonesia akan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan
dan teknologi. Hal ini sejalan dengan perkembangan kurikulum pendidikan yang
berlaku di negeri ini. Bahwa kurikulum disusun berdasarkan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan kebudayaan serta kebutuhan akan pembangunan
bangsa. Kurikulum itu sendiri dioperasionalkan oleh guru melalui pembelajaran
di ruang kelas.
Banyak
orang mengatakan pada zaman dahulu guru sangat dihormati meskipun belum ada
istilah guru professional.
Barangkali ada benarnya. Konon, guru sangat berani menghukum siswa yang nakal
namun guru tak menerima resiko dari hukuman yang diberikan kepada siswa.
Jika
dibandingkan dengan zaman sekarang, guru kurang dihormati meskipun sudah
berpredikat sebagai guru sertifikasi. Jika mau memberi hukuman, perlu
berfikir ulang untuk menerapkannya. Guru tidak berani menerapkan hukuman fisik
karena bisa melanggar hak azazi manusia. Bahkan sebaliknya, siswa berani mengancam guru sebagai pertanda
kurang hormatnya siswa pada guru. Ini semua hanyalah sedikit fakta dari sekian
kenyataan yang terjadi tentang dinamika pendidikan.
Agaknya
perkembangan zaman dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini,
lebih cenderung membuat siswa cerdas dan berfikir kritis ketimbang proses
pendidikan di sekolah. Siswa sekarang sudah paham tentang guru profesional
dengan jumlah tunjangan yang sangat besar dari pemerintah. Siswa juga bisa
menilai mana guru yang betul-betul profesional dan pantas menerima tunjangan
sertifikasi. Mana guru yang patut digugu dan ditiru, mana pula guru yang
sebaliknya. Jika ada yang kurang beres di mata siswa, janganlah heran apa yang
akan dilakukan oleh siswa tersebut di sekolah.
Jika
siswa pintar internet, ngeblog, dan browser di dunia maya dengan berjuta-juta
ilmu pengetahuan dan teknologi, disinyalir itu bukanlah hasil proses
pembelajaran di sekolah. Betapa banyak siswa yang hadir di dunia maya ini
dengan karya blog/web yang luar biasa. Itu dari hasil belajar mandiri dan
bimbingan blogger senior.
Sementara
itu, proses pembelajaran di sekolah masih mengutamakan pencapaian prestasi
akademik, seperti perolehan nilai ulangan harian, ulangan semester dan nilai evaluasi murni. Profesionalisme guru masih diarahkan untuk pencapaian aspek
kognitif tersebut. Sementara aspek lainnya seperti afektif dan psikomotorik, masih dalam prosentase yang sedikit. Semestinya,
ada perimbangan yang proporsional antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor
dalam proses pendidikan sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar