Minggu, 22 November 2015

TEACHER TEACHES FROM THE HEART

Guru adalah Pendidik. 
Menyandang profesi guru adalah sangat mulia, seperti pada ungkapan berikut " A teacher takes a hand, opens a mind, and touches a heart", akhirnya menjadi sesuatu yang menarik perhatian bagi banyak orang di Indonesia. Banyak anak muda yang berminat menjadi guru setelah adanya program sertifikasi guru.
Hal ini ditandai dengan banyaknya lulusan sekolah menengah tingkat atas SMTA yang memilih perguruan tinggi keguruan. Mahasiswa lulusan jurusan non kependidikan pun banyak yang berminat menjadi guru dengan mengambil Akta mengajar IV agar dapat sertifikat mengajar. 
Program sertifikasi bagi guru memungkinkan para guru untuk memperoleh penghasilan bagus setelah memenuhi persyaratan tertentu. Dengan kesejahteraan yang memadai para guru akan dapat meningkatkan profesionalismenya. Jika hanya karena penghasilan guru lebih bagus, keinginan untuk menyandang profesi guru akan mendatangkan kekecewaan di kemudian hari. Banyak tantangan dan hambatan yang akan dihadapi jika guru sudah memperoleh sertifikat guru profesional. 
Profesi guru akan menarik jika diikuti panggilan hati dan nurani untuk mencerdaskan anak bangsa. Guru akan bangga dan puas jika anak didiknya berhasil. Guru juga menjadi lebih bangga bisa melihat siswanya semakin pintar dan maju. Profesi guru itu akan berhadapan dengan berbagai permasalahan di lapangan. Guru tidak menghadapi benda mati yang mudah diutak-atik sesuka hati. Guru berhadapan dengan manusia dinamis yang sedang menuju proses pendewasaan. Sebagai manusia yang sedang menuju taraf dewasa, siswa memiliki berbagai sifat dan karakter unik. Kadang-kadang tidak mengenakkan hati. Profesi guru akan lebih menarik jika dihadapi dengan dasar hati nurani. Ada keasyikan tersendiri bagi guru dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Menghadapi manusia dinamis perlu dengan sikap dan tindakan fleksibel jika guru tidak ingin makan hati setiap hari oleh kelakuan siswa.
Zaman sekarang, pengaruh lingkungan sangat besar terhadap perkembangan pikiran dan perasaan peserta didik. Mereka lebih mudah meniru apa yang mereka lihat dan tonton. Media informasi menyajikan hiburan dan ilmu pengetahuan yang komplit. Mereka bisa belajar dari sana. Sebenarnya tugas guru menjadi lebih mudah dengan kondisi seperti itu. Peranan guru tidak lagi menyajikan informasi. Melainkan guru berperan sebagai mediator antara siswa dengan sumber belajar yang ada. 

















Menjadi guru yang kreatif adalah impian semua pendidik. Namun tidak mudah untuk mewujudkan impian itu. Banyak faktor yang mempengaruhi kreativitas seorang guru. Artinya, kreativitas itu tidak datang dengan sendiri melainkan muncul berkat adanya dukungan dari lingkungan eksternal pribadi seseorang.
Kreativitas itu bawaan atau bakat seseorang. Tidak semua orang yang memiliki potensi bakat untuk  kreatif. Begitu pula guru, tidak semuanya yang memiliki kreativitas. Banyak guru yang mengandalkan kondisi lingkungan pembelajaran apa adanya. Sudah merasa cukup dengan apa yang sudah dijalankan dan dicapai dalam mengajar. Padahal, di tengah kemajuan ini seorang guru harus mampu beradaptasi dan berpikir cepat dalam menghadapi tugas keguruannya.



Kreativitas seseorang juga ditentukan oleh wawasan pengetahuan serta kebiasaan dan latihan tertentu. Orang yang berwawasan dan pengetahuan lebih cenderung untuk kreatif dalam melakukan kegiatan.
Bagaimana ciri-ciri guru kreatif dalam dunia pendidikan? Ada beberapa ciri yang utama dari guru yang kreatif:
1.memiliki kreasi-kreasi terbaru yang bersifat inovasi dalam mengembangkan model pembelajaran.
2.mampu merancang dan mendisain perangkat pembelajaran secara mandiri.
3.mampu menyajikan materi pelajaran dengan metode yang bervariasi.
4.Mampu menyajikan pembelajaran yang menyenangkan.
5.Selalu optimis dalam melaksanakan tugas.
6.Menjadi pemecah masalah dalam hubungan komunikasi social.
7.Selalu melakukan eksperimen dalam menjalankan tugasnya.
8.Berpikir positif.
9.Taat beribadah
10.Menjadi panutan bagi rekan sesama guru.

Guru kreatif ciri guru profesional. Paling tidak ada dua hal yang berkaitan dengan profesi guru. Pertama, guru itu jabatan profesional. Yaitu pekerjaan yang dilakukan dengan menguasai kompetensi tertentu. Dalam hal ini adalah 4 kompetensi dasar sebagai guru profesional. Kompetensi tersebut diperoleh melalui program pendidikan dan latihan.
Kedua, memperoleh penghasilan yang memadai dari jabatan yang disandang oleh guru. Dalam hal ini, guru memperoleh penghasilan tetap sesuai pangkat dan golongan guru bersangkutan. Bagi guru yang telah memperoleh sertifikat pendidik profesional akan memperoleh penghasilan yang cukup besar.


Pendidik profesional dipastikan akan kreatif dalam menjalankan tugas profesinya. Seperti dibahas sebelumnya, dikemukakan 10 ciri kreatif. Kesepuluh ciri tersebut dimiliki oleh guru profesional. Oleh sebab itu, guru profesional identik dengan guru kreatif. Mengapa demikian?

Guru profesional minimal memiliki 4 kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan kompetensi sosial. Guru kreatif akan berusaha untuk mengembangkan semua kompetensi tersebut secara kreatif dan mandiri.
Guru kreatif akan mampu mengembangkan strategi dan metode pembelajaran efektif dan efisien. Pembelajaran akan menarik dan dirasakan manfaatnya oleh peserta didik. Muaranya akan terwujud pembelajaran berkualitas.
Kemampuan profesional akan diasah secara kreatif sehingga menjadi seorang guru yang betul-betul profesional di bidangnya. Menjadi pribadi guru yang patut digugu dan ditiru oleh lingkungan masyarakat sekitarnya.
Yang tidak kalah menarik dari guru kreatif adalah mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Guru kreatif akan menjadi pemecah masalah yang handal di tengah masyarakat. Itulah sebabnya, mengapa guru kreatif itu identik dengan guru profesional.

Beberapa Tips mengajar bagi Sang Guru, antara lain: 
Guru adalah sosok sentris yang tampil di depan kelas. Seorang guru akan menjadi perhatian oleh sekian pasang mata ketika mengajar. Dapat dibayangkan, sekian siswa dengan beragam karakter memberikan perhatian dan apresiasi terhadap penampilan guru di depan kelas.
Saat guru mengajar, saat itu pula siswa mengamati penampilan guru. Mulai dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Diyakini, tidak semua siswa yang memusatkan perhatian pada apa yang dibicarakan guru. Bisa jadi sebagian siswa lebih tertarik untuk memperhatikan tampilan guru ketimbang materi pelajaran yang sedang dibahas. Oleh sebab itu, terutama guru baru atau calon guru yang sedang melaksanakan praktik lapangan, perlu tampil optimal ketika mengajar.
Berikut tips penting agar guru tampil penuh percaya diri ketika melaksanakan pembelajaran.

  • Pakaian dan penampilan

Agar tampil percaya diri di hadapan siswa, guru perlu berpenampilan rapi dan menarik. Mulai dari rambut, pakaian, sepatu, sampai pada asesoris yang dikenakan. Semua ini akan berpengaruh pada motivasi dan perhatian siswa dalam belajar. Kelainan atau kejanggalan dari tampilan berpakaian ini akan menyebabkan terganggunya perhatian dan konsentrasi belajar siswa.

  • Penguasaan materi ajar

Guru yang kurang menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan membuat proses pembelajaran menjadi tersendat-sendat. Guru akan sering membuka buku sumber sehingga perhatiannya berkurang pada siswa. Kegaduhan suasana belajar sering berawal dari tersendatnya proses pembelajaran. Oleh sebab itu, agar tampil penuh percaya diri, guru benar-benar menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan. Dengan demikian guru akan mudah mengelola kelas.

  • Gaya mengajar

Setiap guru memiliki gaya mengajar tersendiri. Gaya mengajar guru adalah khas sehingga menjadi pembeda satu guru dengan guru lainnya. Ada guru yang suka mengajar banyak duduk. Ada pula yang senang berdiri, selalu mengitari ruang kelas. Sepatu dan bunyi detak langkah guru ketika berjalan mengitari ruang kelas, menjadi hal spesifik bagi masing-masing siswa.
Agar tampil percaya diri dalam mengajar perlu adanya variasi gaya mengajar sehingga menarik perhatian siswa. Tentunya akan menjadi motivasi tersendiri bagi siswa dalam menerima materi pelajaran yang diajarkan guru.

  • Gaya berbahasa dan berbicara

Barangkali poin ini menjadi sangat penting dan menentukan keberhasilan guru tampil percaya diri ketika mengajar. Siswa dengan mudah mengetahui karakter guru melalui cara berbahasa dan berbicara. Cara berbahasa dan berbicara guru yang bervariasi dan diselingi humor lebih disenangi oleh siswa.
Ketika berbicara hendaknya guru selalu mengarahkan perhatian pada siswa, jangan sering melihat ke luar ruangan karena hal ini dianggap kurang menghargai siswa. Guru harus dapat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak selalu terfokus pada siswa tertentu.
Empat poin di atas, akan menjadi ciri khas dan karakter tersendiri bagi guru di mata siswa. Pengelolaan kelas akan menjadi mudah sehingga guru tampil percaya diri. 


Guru di tengah perkembangan zaman. 


Profesi guru Indonesia akan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sejalan dengan perkembangan kurikulum pendidikan yang berlaku di negeri ini. Bahwa kurikulum disusun berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan kebudayaan serta kebutuhan akan pembangunan bangsa. Kurikulum itu sendiri dioperasionalkan oleh guru melalui pembelajaran di ruang kelas.
Banyak orang mengatakan pada zaman dahulu guru sangat dihormati meskipun belum ada istilah guru  professional. Barangkali ada benarnya. Konon, guru sangat berani menghukum siswa yang nakal namun guru tak menerima resiko dari hukuman yang diberikan kepada siswa. 
Jika dibandingkan dengan zaman sekarang, guru kurang dihormati meskipun sudah berpredikat sebagai guru sertifikasi. Jika mau memberi hukuman, perlu berfikir ulang untuk menerapkannya. Guru tidak berani menerapkan hukuman fisik karena bisa melanggar hak azazi manusia. Bahkan sebaliknya,  siswa berani mengancam guru sebagai pertanda kurang hormatnya siswa pada guru. Ini semua hanyalah sedikit fakta dari sekian kenyataan yang terjadi tentang dinamika pendidikan.
Agaknya perkembangan zaman dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini, lebih cenderung membuat siswa cerdas dan berfikir kritis ketimbang proses pendidikan di sekolah. Siswa sekarang sudah paham tentang guru profesional dengan jumlah tunjangan yang sangat besar dari pemerintah. Siswa juga bisa menilai mana guru yang betul-betul profesional dan pantas menerima tunjangan sertifikasi. Mana guru yang patut digugu dan ditiru, mana pula guru yang sebaliknya. Jika ada yang kurang beres di mata siswa, janganlah heran apa yang akan dilakukan oleh siswa tersebut di sekolah.
Jika siswa pintar internet, ngeblog, dan browser di dunia maya dengan berjuta-juta ilmu pengetahuan dan teknologi, disinyalir itu bukanlah hasil proses pembelajaran di sekolah. Betapa banyak siswa yang hadir di dunia maya ini dengan karya blog/web yang luar biasa. Itu dari hasil belajar mandiri dan bimbingan blogger senior.  
Sementara itu, proses pembelajaran di sekolah masih mengutamakan pencapaian prestasi akademik, seperti perolehan nilai ulangan harian, ulangan semester dan  nilai evaluasi murni. Profesionalisme guru masih diarahkan untuk pencapaian aspek kognitif tersebut. Sementara aspek lainnya seperti afektif dan psikomotorik,  masih dalam prosentase yang sedikit. Semestinya, ada perimbangan yang proporsional antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor dalam proses pendidikan sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman.




Menjelang Hari Guru 25 November 2015, mari kita sama-sama bergandengan tangan, saling mendukung dan bekerjasama dalam mendidik, menumbuh kembangkan anak didik kita, dan mengajak mereka menatang masa depan yang gemilang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar